KUALA LUMPUR: Malaysia menghadapi cabaran kedaulatan maritim yang serius dalam krisis berkaitan Laut China Selatan yang semakin meruncing.

Lebih dari 35 hari telah berlalu sejak kapal penjaga pantai China CG 5304 menceroboh perairan Malaysia di kawasan Beting Patinggi Ali, Sarawak, suatu tindakan yang mencerminkan pola agresif China di kawasan strategik ini.

Tidak hanya Malaysia, negara-negara ASEAN lainnya seperti Filipina dan Vietnam juga terlibat dalam perselisihan dengan China di Laut China Selatan.

China mendakwa lebih dari 80% dari Laut China Selatan sebagai wilayahnya, termasuk kawasan yang berdekatan dengan wilayah pesisir negara-negara ASEAN, seperti Malaysia, Filipina, dan Vietnam. Dakwaan ini sering ditunjukkan dalam “nine-dash line” atau “ten-dash line” pada peta-peta China.

Baru-baru ini, ketegangan meningkat akibat beberapa insiden antara kapal-kapal penjaga pantai China dan Filipina, termasuk insiden di mana kapal China menggunakan meriam air terhadap kapal Filipina.

China menuduh Filipina melakukan tindakan provokatif dan berbahaya di kawasan maritim yang dipertikaikan. Sedangkan Filipina hanya mempertahankan kedaulatan maritim mereka.

Di tengah konteks global, krisis Laut China Selatan ini menimbulkan ketegangan antara China dan negara-negara ASEAN.

Laut China Selatan merupakan kawasan maritim penting bagi perdagangan antarabangsa, dan ketegangan di kawasan ini mempunyai dampak luas, bukan hanya bagi negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga bagi keamanan maritim, khususnya di kawasan ASEAN dan Asia.

Dalam situasi ini, sangat penting bagi Malaysia untuk mengambil sikap yang lebih tegas dan aktif dalam diplomasi internasional untuk mengatasi masalah pencabulan kedaulatan wilayah maritim ini, serta menjalin kerjasama dengan negara-negara lain yang terkena dampak oleh tindakan China di Laut China Selatan.

Namun, reaksi kerajaan Malaysia terhadap insiden ini dilihat sebagai kurang aktif. Hampir 35 hari berlalu tanpa tindakan nyata dari Kerajaan terhadap keberadaan kapal CG 5304 di perairan Malaysia.

Ketiadaan respons ini menimbulkan kesan seolah-olah kerajaan mengizinkan keberadaan kapal asing di perairan negara, suatu sikap yang mungkin ditafsirkan sebagai kelemahan atau ketidakpedulian terhadap isu kedaulatan.

Ketiadaan tindakan konkrit dari Malaysia dalam menghadapi pelanggaran ini memunculkan pertanyaan penting mengenai strategi keamanan maritim dan kebijakan luar negeri negara. Hal ini menjadi sorotan penting dalam konteks hubungan Malaysia dengan negara-negara lain, terutama dalam blok ASEAN, yang juga menghadapi cabaran serupa dari China.

Penting bagi Malaysia untuk mempertahankan hak-haknya dengan berani dan bijaksana dalam arena diplomatik antarabangsa.

Ini termasuk menggunakan saluran diplomatik untuk menyuarakan keprihatinan dan menuntut tindakan yang sesuai dari pihak China. Malaysia juga perlu mempertimbangkan untuk meningkatkan kerjasama dengan negara-negara lain di ASEAN dan mitra internasional lainnya untuk membangun pendekatan bersama yang lebih kuat dalam menghadapi tindakan China di Laut China Selatan.

Kerajaan Malaysia diharapkan dapat bersatu dalam menghadapi ancaman terhadap kedaulatan negara. Hal ini mencakup sokongan awam terhadap kebijakan pemerintah yang tegas dan jelas dalam mempertahankan kedaulatan wilayah.

Penegasan sikap ini tidak hanya penting dalam mempertahankan integriti perairan Malaysia, tetapi juga dalam memberikan isyarat yang jelas kepada komuniti antarabangsa tentang komitmen Malaysia dalam menjaga kedaulatan dan keamanan wilayahnya.

Dalam menghadapi cabaran ini, sangat penting bagi kerajaan Malaysia untuk tidak mengalah dalam menghadapi tekanan dari China. Tegasnya, kerajaan harus memperkuat diplomasi, memperbaharui komitmen dalam kerjasama serantau, serta meningkatkan kemampuan pertahanan nasional.

Kerajaan juga harus menunjukkan bahawa ia serius dalam melindungi kedaulatan negara, bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan yang konkrit dan jelas.

Kami mendesak kerajaan untuk tidak bertindak pasif dan harus lebih proaktif dalam menghadapi pencabulan kedaulatan ini. Langkah-langkah seperti meningkatkan kawalan di perairan nasional, memperkuat kerjasama maritim dengan negara-negara ASEAN, dan memanfaatkan forum internasional seperti PBB untuk menekankan pentingnya kepatuhan terhadap hukum laut internasional harus segera dilakukan.

Kita tidak boleh mengalah dalam menghadapi tekanan dari negara lain, terutama dalam hal yang berkaitan dengan kedaulatan dan keamanan nasional. Saatnya sudah sampai untuk Malaysia menunjukkan ketegasan dan keberanian dalam mempertahankan hak dan kedaulatan maritimnya.


* Rahman Hussein kini mengendalikan firma penasihat butiknya sendiri, Imperium Consulting, dan bersifat kritis terhadap sebarang polisi dan dasar yang melibatkan kepentingan dan kedaulatan negara.

** Artikel ini merupakan pandangan peribadi penulis berdasarkan bidang tugasnya dan tidak semestinya mewakili pandangan sidang pengarang Astro AWANI.